Siapa yang aku bonceng? Part 1

 “Sampai jumpa, Boy! Semangat mengerjakan tugas Pak Yuli,”

“Baik, Alfan! Sampai ketemu besok di kelas sesi dua!”
Kehangatan terasa ketika Boy berpamitan dengan Alfan seusai kelas malam. Pada hari Kamis Boy memang memiliki satu-satunya kelas malam, bahkan itu menjadi pertama kali untuk Boy memperoleh kelas malam.
Boy adalah satu dari ribuan mahasiswa yang menimba ilmu di salah satu kampus negeri ternama di Ibukota Jakarta. Memang kampus tersebut memiliki kawasan yang luas, pun ketika pagi hingga petang kampus masih ramai. Tetapi ketika seusai kelas malam, keramaian seketika berubah dengan sepi yang mencekam.
“Ah, astaga! Dimana kontak sepeda motorku?!” Boy kebingungan mencari kunci sepeda motornya. Padahal, ia selalu meletakkannya di saku sebelah kanan celananya. “Hmm.. mungkin aku meninggalkannya di lokerku,”
Boy merasa linglung ketika ia meninggalkan kunci sepeda motornya di loker miliknya. Terpaksa ia kembali ke lokernya di salah satu gedung kuliah di kampusnya. Lumayan jauh jaraknya dari tempat parkir sepeda motor, melewati lorong-lorong yang mencekam.

Jalan yang dilewati Boy seakan jauh ketika malam hari. Langkahnya kian melambat, entah mengapa mungkin karena ia kelelahan setelah mengarungi hari yang padat.
“Ah, ini dia aku temukan.” Boy akhirnya menemukan kunci miliknya di lokernya sendiri. Boy langsung memutuskan untuk pulang sebelum gerbang ditutup.
Huu… huuu..
Ada tangisan suara wanita yang didengar oleh Boy saat hendak menuju tempat parkir sebelumnya. Ia menoleh ke samping koridor. Tidak ada siapa-siapa yang menjadi sumber suara itu, tetapi suara itu terus berlanjut. Perasaan Boy semakin tidak mengenakan disana.
“Kak… kak…”
Dag… dig… dug…
Ada suara yang seakan memanggil Boy dari arah belakangnya. Seketika bulu kuduk Boy langsung merinding, ia kemudian memberanikan diri untuk menoleh kebelakang.