Surat Berdarah

Sepeninggal kakaknya, Martha seakan tidak bisa melepaskan kepergian kakaknya yang begitu cepat. Kecelakaan yang harus merenggut nyawa kakaknya yang tercinta menyisakan secarik surat yang ditulis terakhir, dari Jeane untuk Martha.

“Martha, ingatlah bahwa aku selalu menyayangimu, kapanpun dan dimanapun,”
Itu adalah kilasan kata yang tersurat dari Jeane untuk Martha. Surat itu ditulis sehari sebelum Jeane mengalami kecelakaan bus bersama rombongan kawan sekolahnya.
“Sudahlah Martha, Jeane kakakmu sudah tenang di alam sana,” ucap ibu Martha di depan pusara Jeane. Martha hanya menangis di depan pusara kakaknya sembari memegangi surat terakhir dari kakaknya itu.
Martha dan ibunya pun kembali ke rumah. Martha yang masih terpukul langsung masuk ke kamar dan merebahkan badannya di kasur. Ia masih tak kuasa membendung air mata dan tak percaya kakak yang benar-benar ia sayangi telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.
“Kakak, kakak,” Martha hanya bisa merengek sembari melihat fotonya bersama Jeane saat libur musim panas. Tanpa disadari Martha pun tertidur dalam larutan kesedihan dan kehilangan yang mendalam.
Dak.. dak… dakkk…
Martha terbangun karena suara benturan di loteng atas kamarnya. Martha baru sadar kalau ia terbangun dalam malam yang sunyi, dingin, nan gelap. Ia juga masih menggenggam surat dari kakaknya tersebut.



Martha mulai menaiki anak tangga menuju loteng, dengan sejuta kerinduan terhadap sang kakak. Ia melangkah seakan tertarik oleh kerinduan dalam hatinya.
“Martha… Martha… Martha…”
“Kakak, itukah dirimu? Tidak, tidak, Kakak sudah tiada,” gumam Martha yang masih dalam kesadaran yang setengah. Sebuah suara yang tak asing lagi untuk Martha, tetapi ia masih tak percaya akan suara itu.
Ketika Martha sudah sampai di loteng rumahnya, terasa suatu cairan hangat mengalir dari surat yang ia pegang. Martha melihat keanehan tersebut, dan ternyata surat itu mengeluarkan darah, darah segar berwarna merah nan hangat!
“Iya Martha, aku ada di depanmu!”
Pandangan Martha tiba-tiba teralihkan ke ujung loteng. Terlihat seorang wanita bergaun putih dengan bercak darah di sekujur gaunnya. Bermuka pucat dengan rambut pirang yang mengering, segenggam buket bunga layu juga ia bawa. Seorang yang tak asing dan sangat dirindukan oleh Martha.
“Martha, masihkah kau ingat denganku?”